Antara Mimpi dan Kenyataan

Masih terukir dalam sanubariku, suatu saat di masa SMA kelas 3, masa-masa penuh kenangan, saat akan meninggalkan sekolah menengah atas menuju perguruan tinggi. Saya sudah konsentrasi bagaimana bisa masuk PT daripada memikirkan masalah yang berhubungan dengan masa remaja. Soalnya saya baru merasakan “broken heart” karena keinginan saya dekat dengan seorang cewek ditolak mentah-mentah setahun yang lalu.

Pengumuman kelulusan sudah ada, saya lulus, bahkan mendapat kemudahan melalui jalur PMDK sehingga masuk perguruan tinggi tanpa testing.

Pada awal masuk perguruan tinggi, masa-masa perpeloncoan, saya dikejutkan dengan sebuah undangan untuk mendatangi rumah si dia yang pernah menolak niat baik saya. Tanpa basa-basi saya akhirnya ke rumahnya, ternyata…….. penolakannya setahun yang lalu bukanlah hal yang sebenarnya namun karena masih sekolah sehingga hal-hal yang tidak berhubungan dengan pelajaran harus ditunda.

Betapa senang hatiku, ternyata sesuatu yang lama kutunggu akhirnya bersambut juga. Rasanya aku seperti terbang , antara bumu dan langit, antara mimpi dan kenyataan….. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena saya harus merantau ke pulau Jawa, studi di negeri rantau. Sulit melukiskan atau memutuskan kegembiraan yang baru kualami adalah mimpi atau kenyataan karena berlalu sangat cepat..

3 komentar Oktober 16, 2008

SETAHUN DI MAKASSAR

Tepat tanggal 13 Agustus 2007, saya mendarat pertama kalinya di Makassar karena perpindahan kerja sekaligus promosi dari Telkom Bandung ke Telkom Makassar. Bayangan sy semula tentang Makassar yang lebih banyak hutan dan “agak kampungan” menjadi sirna ketika pesawat ADAM AIR mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin pada pukul 09.00 WITA.

Tanpa istirahat atau “pengenalan medan tugas”, saya langsung bergabung dengan RAKORDA Telkom Makassar untuk mengevaluasi kinerja semester 1 tahun 2007. Bahkan dalam sela-sela acara RAKORDA langsung dilakukan serah-terima jabatan dari pejabat yang saya gantikan.

Ternyata setelah menjalani setahun kerja di Makassar, kami sekeluarga betah karena: satu, udaranya yg panas sehingga tidak mengganggu kami sekeluarga yg dominan alergi udara dingin. Kedua, ikan yang segar-segar dan berukuran relatif besar membuat kami lahap memakannya, ketiga, masyarakatnya relatif terbuka terhadap pendatang, meski agak “berlagak bangsawan”, dan terkhir, anak-anak yang mendapat teman baru sekaligus prestasi yang lebih baik di kelas.

Ternyata.. Makassar sangat enak…………, meski kami akui udara di Bandung lebih suejuuukkkkk….

Add a comment Agustus 27, 2008

GURU DAN INTERNET

Bagaimana cara meningkatkan kompetensi guru di Indonesia, yang tersebar di 33 propinsi, ratusan kabupaten, dan ribuan pulau ini? Apakah tetap mengandalkan birokrasi alias Depertemen  Pendidikan Nasional? Berapa biaya yang harus dikeluarkan pemerintah? Berapa banyak waktu yang dibutuhkan, sekedar informasi saja menatar 100 guru saja dibutuhkan 2 minggu (40 jam).

Sementara menunggu itu, apa yang dilakukan guru? Hanya menanti??? Padahal dunia pendidikan berubah dengan cepat, lebih cepat dari perencanaan peningkatan kompetensi guru.

Tidak ada cara lain, kita harus menggunakan internet. Semua kalangan dunia pendidikan harus terlibat aktif, memakai media internet untuk proses ajar mengajar, baik untuk meningkatkan pengetahuan guru, management kurikulum dan sekolah serta pengawasan mutu sekolah. Dalam hal ini PT.Telkom sudah siap, dengan 9,5 juta telepon rumah yang sudah siap terhubung ke internet melalui telkomnet@instan, maka kalangan dunia pendidikan di Indonesia bisa meningkatkan kompetensinya, bisa saling berkomunikasi, bahkan bisa tukar-menukar informasi antar individu maupun antar lembaga.

2 komentar Februari 24, 2008

MONYET VS BEBAN HIDUP

Di beberapa negara pantai Afrika, penduduk setempat mempunyai cara yang unik untuk menangkap monyet yang sering mengganggu pertanian mereka. Buah kelapa dilubangi pas sebesar tangan monyet, sehingga tangan monyet bisa masuk dan keluar, namun tidak bisa keluar bila dalam keadaan tergenggam.

Lalu penduduk akan memasukkan biji kacang ke dalam lubang kelapa, yang kemudian membiarkan kelapa berserakan di tanah. Tentu ketika monyet datang ke area pertanian, mereka sangat senang mencium bau kacang, lalu memasukkan tangannya ke dalam kelapa yang berlubang tersebut. Dengan tangan tergenggam kacang, kedua tangan monyet akan berat karena ada beban kelapa yang menggantung tersebut.

Dalam keadaan demikian, penduduk akan tiba-tiba datang menyerang monyet-monyet yang lamban bergerak karena tidak mau melepaskan genggaman kacang yang membebani tubuhnya. Bisa dibayangkan akhirnya bagaimana nasib monyet-monyet tersebut.

Gambaran cerita tersebut di atas sering menjadi lukisan, bagaimana kehidupan kita, sering menjadi korban karena kita tidak bersedia melepaskan beban-beban yang kita genggam. Bukankah Tuhan Yesus sudah menyelamatkan kita? Mengapa kita masih menggenggam sesuatu yang dapat memberatkan hidup kita? Jangan biarkan dosa dan iblis membutakan mata rohani kita, larilah bersama Yesus, tinggalkan beban hidupmu. 

1 komentar Februari 15, 2008

Tentang Saya

Terlahir di daerah pantai barat Sumatera, tepatnya di Sibolga, saya mengalami interaksi 3 budaya dominan pada masa kecil. Budaya Batak dari orang tua, budaya Padang dan Pesisir dari lingkungan. Ketiga budaya ini menjadi cikal bakal atau modal saya menjadi manusia perantau.

Bapak saya menceritakan bahwa semula nama saya berasal dari Abraham Lincoln (mantan Presiden Amerika yang menghapus perbudakan), namun karena lidah orang Batak sulit mengucapkan “lincoln” maka jadilah nama saya “Linson”.

1 komentar Oktober 18, 2007

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 komentar Oktober 18, 2007

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Juni 2017
S S R K J S M
« Okt    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts